153 Km dari Kendari, Desa Wisata di Sulawesi Tenggara Ini Miliki Berbagai Potensi Budaya, Apa Saja?

inNalar.com – Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi di Pulau Sulawesi dimana terdapat berbagai kawasan wisata.

Salah satu kawasan wisata di Sulawesi Tenggara itu berada di Kabupaten Muna Barat berupa desa wisata.

Dikenal dengan desa wisata Santiri, jaraknya sekitar 153 Km dari Kendari.

Baca Juga: Dibangun Pada 1995, Jembatan Sepanjang 640 Meter di Palangkaraya Ini Dilengkapi Water Front City

Tepatnya, desa wisata Santiri berlokasi di Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara.

Sebagian besar mata pencaharian penduduk desa ini bersumber dari sektor perikanan.

Pada dasarnya, penduduk yang bertempat tinggal di desa ini merupakan orang Bajo.

Baca Juga: Revitalisasinya Habiskan Dana Rp700 Miliar, Runway Bandara di Palangkaraya Ini Dinilai Masih Perlu Pembenahan

Dilansir inNalar.com dari jadesta kemenparekraf, Kondisi budaya masyarakat Bajo di Pulau Balu lebih dipengaruhi oleh kebiasaan yang telah menjadi warisan dari generasi ke generasi.

Meskipun begitu, kini warga Bajo telah membuka diri untuk berkomunikasi dengan masyarakat non-Bajo.

Menjadi desa wisata, Desa Sanitiri memiliki sejumlah potensi budaya yang sangat menarik.

Baca Juga: Miliki Fasilitas Insinerator, Limbah B3 di Gorontalo Tak Perlu Lagi Dikirim ke Makassar, Kapasitas Pengolahannya…

Pertama, Silat Manca yang merupakan seni bela diri ini karena gerakannya yang lembut seperti orang menari.

Meskipun gerakannya lembut, tetapi tetap ampuh dalam melumpuhkan hingga mematikan.

Kedua, Tari Ngigal. Tarian ini khas suku Bajo yang biasnya dipakai untuk penyambutan tamu penting atau pada acara-acara tertentu.

Baca Juga: Keruk Anggaran Rp56,8 Miliar, Bendungan di Sabang Ini Alami Pendangkalan, Dampaknya…

Ketiga, Iko-iko yang merupakan seni pertunjukan yang menghadirkan pencerita yang menceritakan tentang sejarah suku Bajo dengan menggunakan Bahasa Bajo.

Keempat, pertunjukan Gambus atau pertunjukan musik, serta lagu daerah suku Bajoyang dimainkan dengan alat musik gambus.

Selain potensi budaya, desa ini juga memiliki potensi atraksi wisata diantaranya memancing udang pasir, memancing ikan, dan pengobatan tradisional dengan doa. ***

 

Rekomendasi